Parameter ke 2 adalah dari kebijkan pemerintah dalam menentukan UN sebagai "standar" untuk lulus. mengapa saya mengapai tanda kutip untuk kata standar? karena saya ingin menekankan lagi "seperti apa ukuran standar pembelajaran di negeri ini?". jika kita lihat ke pelosok-pelosok negeri ini, pembelajaran yang dilakukan disana belum sampai pada standar. lalu mengapa kebijkan pemerintah menyamaratakan nilai standar untuk SETIAP daerah? seharusnya pemerintah belajar dari kesalahan di tahun kemarin. jika tahun lalu dengan nilai yang menurut mereka standar saja banyak yang tidak lulus, apalagi tahun ini yang nilainya standarnya kembali naik? mungkin maksud dari kebijakan pemerintah adalah ingin menjadikan anak bangsa ini LEBIH dibanding sebelum-sebelumnya. tapi apakah pemerintah memikirkan dampak dari kebijakan yang mereka buat? bangsa kita belum mampu untuk menerima hal baru secara cepat.
parameter terakhir adalah para pengajar atau guru. apakah kualitas dari setiap guru di tiap sekolah di negeri sama? jawabannya belum. hanya di kota kota besar saja yang memilki kualitas guru yang hebat. namun di kota kota kecil? kualitas dari pengajaran guru-guru ini juga sangat penting bagi keberhasilan siswa saat akan menghadapi UN.
Kita kembali ke judul yang saya angkat pada tulisan saya ini. "siapa yang harus di persalahkan?" jawabannya adalah tidak ada yang salah. karena sebenarnya negeri ini belum mampu untuk menerapkan UN sebagai standar kelulusan yang murni.
Untuk para adik-adik yang saat ini belum lulus UN, ingat UN bukanlah akhir dari hidup kalian. masa depan kalian masihh sangat panjang. masih ada UN susulan, pergunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya untuk kalian meraih masa depan kalian yang lebih cerah!! SEMANGAT!! jangan pernah menyerah!! :)
